Thursday, March 13, 2014

#MelawanASAP #PrayForRIAU #SaveRIAU dari Kami Anak Riau

Hampir sesak nafas ini, walau hanya mengurung diri di rumah. Sejak Sabtu Kemarin Na sebenarnya udah ngak pengen lagi ke luar rumah. Namun, beberapa kebutuhan harus dibeli dan ini mau ngak mau mengharuskan Na untuk menghirup asap sisa pembakaran lahan orang-orang yang berkepentingan itu. Ngak tega sebenarnya membiarkan asap yang pekat itu masuk ke paru-paru Na. Tapi mau gimana lagi. Kita kemana-mana meski naik motor, terbuka saja (Ada mobil juga ngak bisa mengendarainya :(). 

Meskipun menggunakan masker, namun tetap saja udara berbau pekat itu masuk tanpa diundang. Sebal, tentu saja. Meskipun ngebanyakin aktifitas di dalam rumah, bangun pagi-pagi sudah harus bersin-bersin dan berdahak. Ya, sekali lagi mau gimana lagi. Kontrakan kita punya beberapa lubang angin, yang memungkinkan asap masuk melalui celah-celah itu. Nasib baik pekarangan kita ditumbuhi beberapa tanaman yang setidaknya juga ikut menyerap zat tidak baik pada asap.

Kemarin satu lagi lewat sosial media facebook, Na diinbox oleh Mas Ren ditujukan ke Na dan daddy. Menyambung pesan beberapa waktu lalu saat kita merancang promo event Pekanwak "Ada Apa Di Pekanbaru". Ayuk kita gerakan di online yuk biar menasional ini dan ada solusi, ajaknya. Tentu saja ajakannya Na sambut baik. Sebelumnya kita di PekanbaruCo juga sudah sering sekali menyuarakan aspirasi kawan-kawan khususnya di Pekanbaru yang sangat terganggu dengan asap dan rindu Pekanbaru yang biru. 

Selama kita menyuarakan asap ini, setidaknya sudah ada 2 kejadian meninggal yang teman-teman follower mentionkan ke akun kita karena ASAP. Dasyat sekali memang, itu baru korban yang kita tahu, ada jutaan yang juga sudah terserang ISPA, mungkin salah satunya Na. Nenek juga kemarin telpon, katanya lagi radang tenggorokan. Semoga nenek cepat sembuh. 

Nah dari obrolan kita di chat itu dengan mas Rend, kita sepakatlah akan membuat aksi online, kita dari Pekanwak. Sebelumnya beberapa aksi juga sudah dilakukan oleh teman-teman di Pekanbaru dengan menggelar aksi damai pada saat CFD dan 10 Maret yang lalu. Namun nampaknya pemerintahan kita anteng-anteng saja, Malah pak Gubri di media massa mengatakan "Kita pasrahkan saja pada Allah". 

Mas rend nya masih bingung kita nantinya mau menaikkan hastag apa, #Melawanasap #PrayForRIAU  atau #SaveRIAU, walau akhirnya ketiga hastag itu kita gunakan semua. Website www.melawanasap.com pun sudah dibuat, dan hari ini tanpa dikomandokan kita serentak menggelar aksi online itu.

Daddy sedari pagi sudah stay di depan lappie, walau Na belum ikutan, karena Na juga harus nyambi menyelesaikan orderan tempat telur merah gaweannya Satu Garis Craft. Beruntungnya hari ini Na g harus masak yang terlalu banyak. Masih ada nasi semalam dan lauk semalam. Yah, ujung-ujungnya hanya dadar telur dan goreng kerupuk saja tambahannya.

Ternyata kita sehati. Ya lagi-lagi kita itu teman-teman pekanwak. Fanspage pun kita buat, alhamdulilah udah banyak juga yang ngelike. jelang siang semakin aktif, karena si daddy juga mengajak teman-teman  buzzer di Riau untuk ikut serta. Situasi memanas, TT Pekanbaru TT Riau, Na diinbox sama mas rend. "Mbak Ainun kirim surat ke Panji untuk bantuin aksi kita". Terharu na cuma bilang "ok mas". Yach dan semuanya bekerja. 

Terima kasih banyak mbk Ainun dan kawan-kawan di Jakarta yang langsung merespon positif. Ngak lama #PrayForRIAU jadi TT, diikuti #SaveRIAU, diikuti #MelawanASAP. Sekali lagi tanpa dikomandoi, teman-teman yang ada di Rumbai berkumpul di basecamp Rumbai dan Na serta daddy sedari pagi berkumpul di rumah. Ya semuanya berkolaborasi. Mas Pandji Pragiwaksono, Om Mario teguh dan lainnya turut serta menyuarakan keresahan kami, akun-akun twitter dengan follower ratusan ribu hingga jutaan dengan sukarela ikut menyuarakan. Luar biasa. Memention Pak Presiden, membuat gambar-gambar lucu, marah atau apalah. Semuanya berekspresi. Gambar-gambar sekitaran kami juga semuanya di upload di twitter dan ditujukan ke bapak Presiden, karena Gubernur kami telah pasrah. Atuk gitu orangnya jadi trend baru. 

Sejak bencana asap ini "gitu orangnya" jadi trend disini. Ada yang membuat "adek lelah diasapin terus, adek gitu orangnya". Semuanya ngetweet dengan hastag ini.

Yach seperti mike bilang, walaupun ada yang mencibir kami dengan gerakan online begini "yach apaan cuma ngetweet doank mana bisa ngilangin assap", setidaknya kami bergerak dengan kemampuan kami di digital media. Kami ngak mengumpat-umpat saja. Ternyata, apa yang kita gerakkan hari ini bersama kawan-kawan di twitter khususnya, mendapat respon dari bapak Presiden. Kata pak Presiden Kalau Pemda Riau tidak bisa mengatasi bencana ini dalam waktu 1-2 hari ke depan, maka kepemimpinan akan diambil alih. 

Kita gerakkan terus hingga kita benar-benar lihat langit Pekanbaru kembali biru. Anak-anak kembali bersekolah dan aktifitas kembali lancar. Di tengah asap yang tebalnya sesuatu ini, kami diharuskan tetap berada disini. Mau keluar dari Pekanbaru? kemana? Provinsi tetangga juga kenak asap. Mau ke Jawa, penerbangan berhenti hingga 3 hari kedepan. 

Teman-teman dukung kami ya, terus gerakkan aksi ini di Sosial media terutama twitter. Sekian dari Saya dini hari ini dari kamar yang bau asap

#Pekanbaru, 14 Maret 2014 (00:36)

Thursday, March 6, 2014

Belajar Dari Seorang Sofie

Hai, hai, sepakat donk ya kalau belajar itu ngak mesti dari orang yang lebih hebat, lebih pinter, lebih tua. Na justru beberapa kali belajar dari seorang anak imut yang akan beranjak remaja. Yes, Kak Sofie. Anak kecil satu itu gigih banget. Ngerjain sesuatu sampai bisa. Paling penting hidupnya ngak pakai beban. 

Kalau yang terakhir ini mungkin karena doi masih kecil aja kali ya. Mandiri tentunya. Mungkin Na seusia dia yang baru 6 tahun 3 bulan itu belum pandai masak mie instan. Tetapi kak sofie beda, dia udah pandai pemirsah *eeeh. Sekali waktu Na bebasin dia buat ngelakuin apa yang dia suka di rumah Na. 

Secara dia paling senang masak, ya Na biarin lah dia masak sambil ngawasin. EEE ternyata dia ngerekam, hafal step-step masak yang sebelumnya Na pernah ajarin di rumah nenek. Na cuma berikan bawang merah, bawang putih. Lalu dia dengan senang hati mengupasnya. Meski matanya jadi ikut perih, Na hanya senyum saja. Kalau Na larang, pastinya ngak mau. Lepas mengupas dan mengiris bawang dia cuci tangan nya hingga bersih dengan sabun. Yak pinter. Lalu menumispun sampe mie nya mateng, dia pandai banget dan sudah khatam langkah-langkahnya..

Sofie itu pengayom. Kadang kalo adek lagi bobok, dia usap-usap kepala adeknya trus dia cium pipi adeknya. Mungkin saja dia sudah semakin mengerti bahwa bunda sudah tak ada. Makanya kadang suka gitu sama adek, walau sesekali juga masih keikut ego, trus ujung-ujungnya berantem.

Eh iya lupa, kak Sofie agak cepat perkembangannya, umur baru 6 tahun, tetapi gigi udah copot 4 buah. Awalnya yang bawah (giginya kecil jadi ngak begitu merubah bentuk wajah). Setelahnya copot di sebelahnya, masih kecil juga, apalagi yang copot pertama udah tumbuh. Yang ketiga, copot yang atas (gigi besar), mulai pengaruh ke wajah. Kebetulan gigi atas agak gede dan ada rongga ke gigi sebelahnya. Eh, ternyata gigi sebelahnya juga ikutan goyang. Na suka senyum membayangkan gimana bentuknya kalo tetiba tanggal 2, sementara yang satunya belum tumbuh. Mungkin dia merasa, jadinya rada takut dia buat nanggalinnya padahal udah goyang banget. Trus bertanyalah dia ke Na. 

Bun, kalo gigi kakak ngak copot kakak cantik bun?
+hoho, kakak ompong aja cantik apalagi ngak ompong

Ternyata pernyataan Na itu buat PD nya bertambah, dan dia usahain buat nanggalin giginya yang udah goyang banget itu. 4 gigi semua ditanggalin sendiri sama kak Sofie, emejing kan tu? 

Masih banyak pelajaran yang bisa Na dapatkan dari gadis kecil Na itu...si cantik yang takut jelek hanya karena ompong

Thursday, February 27, 2014

Potensi Lokal Pekanbaru Luar Biasa, Pekanwak Juga

Pekanwak, setidaknya memulai sesuatu yang tidak mudah. Mungkin sebelumnya beberapa komunitas sudah mulai mensket acara untuk gathering community, namun entah mengapa gaungnya ngak terdengar. Senyap saja. Namun teman-teman Pekanwak mencoba kembali meramunya, sehingga masyarakat bisa membuka mata dan potensi lokal di wilayah ini bisa terangkat.

Benar saja, hal ini akhirnya terbukti. Persiapan juga tidak terlalu lama, sekitar dua bulan mulai dari prepare mentahnya sampai acara ini jadi. Untuk awal bisa dikatakan sukses. Kita yang dari awal masih meraba-raba potensi yang ada di daerah ini, berusaha mengumpulkannya dan meramunya dalam satu rangkaian acara. Tidak mudah tentunya. Namun, apa yang tak bisa dilakukan jika yang menghandle adalah orang-orang yang tidak kenal kata menyerah.

Na sendiri masuk di team ngak dari awal..teman-teman udah aktif duluan diskusi di grup Whatsapp. Secara kita ngak pake, kita jadi ketinggalan info meski tidak terlalu jauh. Sempat pesimis sebenarnya melihat persiapan yang menurut Na lebih singkat dari beberapa event yang pernah na handle. Ya, apalagi kalo bukan masalah sponsorship yang buat hati ini agak menggalau. Namun pesimis Na terpatahkan, ketika suatu kali meet salah seorang dari anggota tim yang tidak perlu disebutkan namanya (yang jelas paling tua aja gitu *eeeh) mengatakan, ada tidaknya sponsor acara ini harus tetap jalan. Bagaimana caranya? ya kita juga harus berpikir keras tetapi secara psikologis kita ngak terbebani dengan sponsorship.

Apalagi kita bukan Event Organizer. Hanya komunitas kecil yang baru ada sekitar dua bulan ini. Ya dua bulan, singkat sekali kan? tetapi kehadiran kita bukan prematur, meski kita masih sedikit buta. Singkat cerita beberapa sponsor berhasil kita gaet walau sich kalo di kasih peringakat belum terlalu membahagiakan, belum membuat kelegaan. Kenapa? karna masih banyak di negeri ini yang masih meragukan acara ini. "Ow apa bisa? apa sanggup? bla...bla...blaa lah. Ya, sebanyak yang meragukan kan masih ada sedikit yang memberikan kepercayaan full.

Acara kita mengambil tempat di Perpustakaan wilayah Soeman HS. Bukan tanpa pertimbangan, meskipun beberapa suara sumbang masih ada di belakang yang mengatakan "mengapa di perpustakaan? kenapa ngak di tempat lain?", ya yang semacam-macam itulah. Ngak lain, salah satu tujuan kita, agar setidaknya hari itu, masyarakat Pekanbaru bisa lebih mengenal pustakanya, bisa berkunjung ke perpustakaan, lihat-lihat, baca-baca dan menikmati sajian yang kita suguhkan, ngak hanya sekedar hiburan tetapi salah satunya ada kuliner khas yang coba kita perkenalkan ke masyarakat. Meski di Ada Apa di Pekanbaru kita belum dapat mengumpulkan seluruh kuliner yang bisa dibilang ngehitz di Pekanbaru, Insya Allah bila tidak ada aral melintang, kita akan prepare untuk Ada Apa di Pekanbaru 2.

Di balik sport jantung kita juga pastinya senyum kebahagiaan terpancar, kenapa? karena teman-teman komunitas begitu antusias dengan acara ini, Alhamdulillah. Kita berhasil mengumpulkan beberapa komunitas hebat di Pekanbaru ini. Teman-teman inilah yang banyak membantu mensukseskan acara kita, makasih kengkawan. Ini sebenarnya point pentingnya, potensi selain budaya, kuliner kita juga mau mengangkat potensi yang dipunya oleh teman-teman komunitas ini.

Ya setiap acara tentunya tidak lepas dari kekurangan, dan kita pun mengalaminya. Bisa jadi karena keterbatasan waktu yang ada :) Insya Allah ke depannya punya waktu persiapan lebih banyak :) Tetapi Na bisa katakan teman-teman Pekanwak sangat luar biasa. Anak-anak muda ini seakan punya energi lebih, tanpa capek dan idenya tidak surut. Lepas plan A, bergerak cepat ke plan B, begitu seterusnya. Walau tidur beberapa jam saja atau nyaris tanpa tidur tidak satupun dari teman-teman panitia yang tumbang, padahal 23 Februari 2014 itu harus melakoni aktifitas yang ngak ringan. Salut dan semoga energi positifnya tersalurkan ke banyak anak muda Pekanbaru yang ingin Pekanbaru bisa dikenal lebih luas dan menghasilkan hal-hal baik lainnya.