Friday, June 25, 2010

Konversi, Konversi, Mungkinkah akan menjadi Kontroversi

Sejak tahun 2008 yang lalu pemerintah meluncurkan kebijakan konversi minyak tanah ke gas.
Waw, kedengarannya menarik, mengingat semakin berkurangnya pasokan minyak tanah. Selain itu menggunakan gas, bisa menghemat waktu, dan tentunya menghemat biaya. Yang penting juga kalau menggunakan gas, masak jadi mudah, nggak perlu khawatir, hidung bakalan item-item, kenak asap.
Tapi prakteknya apa sesimple itu?

Kita coba liat ya, peluncurannya bertahap, semua masyarakat dirubahlah pola memasaknya yang tadinya pake minyak tanah sekarang pake gas...pendataan, pembagian minyak tanah...namun entah dimana salahnya pada tahap pertama tidak semua masyarakat (RTS) yang kebagian kompor gas, ada yang dapet 2 (yang dapet dua, ya cengengesan ajha, yang ngak dapet, ngerajuk, eh ngak dink, ngomel lah minimal ya?).
Setelah banyak RTS yang beralih ke penggunaan gas apa yang terjadi? terdengarlah berita, gas 3kg meledak, aw aw, ngak satu dua berita yang semacam itu, sehingga buat yang lain takut jadinya pake. Sampe si tante, si kakak, pada telpon minta dijemput gas dan tabung yang mereka dapet. Katanya takut makenya, takut juga nyimpen di rumah ntar meledak (hahaha, bisa gitu g dipakek meledak). Ya dimaklumi sech kekhawatiran mereka, soalnya mereka tinggal di kawasan padat penduduk, yang rata-rata rumah penduduknya terbuat dari papan, kalau sempat kejadian satu yang meledak, habis semuanya.

Kalo urusan ngisi ulang (haiyah, kayak kartu ponsel ajha diisi ulang pulsa)...klo isi ulang gasnya mudah-mudahan nggak ada kendala. Cuma yang meledak-meledak itu jadi takut, sumpah beneran, na sendiri ngalamin ke khawatiran itu, padahal di rumah ngak setahun dua tahun ini pake gas, tapi sejak program konversi ini, jadi takut dank kalo mau nyalain kompor, nyali menciut. (ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiut, jadi kecil).

Lalu apa ya yang buat tabung gas itu meledak? mungkin saja karena kurang tahu penggunaan gas yang baik dan benar kali ya. Gencarlah diiklankan penggunaan tabung gas yang baik dan benar.
Tapi na bahas juga lah sikit tentang tabung gas, hasil baca sana-sini (sama-sama balajar nyow kita)
Nah ini dia ciri-ciri tabung gas yang aman:
Saat membeli:
  • Pilih tabung gas yang mempunyai kondisi baik (yang bagus, g penyot-penyot, lasnya bagus, ngak berkarat, ngak tergores dan ngak ada tonjolan-tonjolan (kalau di kitanya, ngak ada memar-memarnya)
  • Pilih tabung yang berlogo SNI
  • Cek segel plastiknya masih bagus ndak, kalo masih beli, kalo ndak, cari yang lain, kalo semuanya segelnya ndak bagus, beli ke pangkalan ato toko lain ajalah
  • Kalau segel plastiknya dilepas pastikan karet pengamannya masih ada dan masih elastis, tidak koyak, tidak longgar, tidak aus
Saat menggunakan:
  • Tempatkan si tabung pada ruangan yang mempunyai ventilasi baik
  • Pastikan regulatornya terpasang dengan baik, dengan posisi kenop regulator mengarah ke bawah
  • Pastikan selangnya terpasang dengan baik, tidak tertekuk atau tertindih, trus cek juga kondisi selang bagus atau ngak, soalnya kadang ada tikus yang iseng gigitin selang
  • Nah saat tabung lama masih di rumah pastikan di dekatnya ngak ada sumber api, karena mungkin masih ada sisa gas
Saat terjadi kebocoran:
  • Segera lepas regulator, dan bawa tabung ke tempat terbuka
  • Buka semua ventilasi udara selebar-lebarnya sampai bau gas hilang
  • Jangan menghidupkan sumber api, peralatan listrik dan peralatan lain yang dapat menimbulkan percikan api
  • Periksa sumber kebocoran, dengan mencelupkan tabung pada bak yang berisi air
Nah, kalau cara penggunaan, dan antisipasinya sudah benar kalau terjadi juga kasus ledakan, itu dah takdir lah...
tapi tenang kalau sudah seperti ini keadaannya, ada asuransi dari Pertamina.
  1. Korban tewas, ata cacat tetap akan mendapat santunan Rp. 50 Juta
  2. Korban rawat jalan, akan mendapat santunan Rp. 25 Juta
  3. Asuransi juga berlaku bagi korban kebakaran akibat ledakan tabung gas