Friday, July 23, 2010

Anak Indonesia, Terkungkungkah?

Semalam baru saja memperingati Hari Anak Nasional (HAN), Tepatnya ya tanggal 23 July 2010. Banyak juga yang berkomentar kalau anak Indonesia terkungkung, hilang kebebasan. Tapi Iyakah? Apa sebab? Meskipun tidak dapat dipungkuri, masih banyak anak Indonesia yang kehilangan waktu bermain, karena harus menggantikan peran orang tua untuk mencari nafkash, sementara orang tua nya duduk hongkang-hongkang kaki di kedai kopi untuk berjudi. Kalau da;am kasus ini, jelas anak-anak ini kehilangan kebebasan. Meskipun begitu namanya juga anak-anak, senang-senang ajha ngelakuinnya. Coba lihat di lampu merah, di perempatan, anak-anak yang ngemis-ngemis, bersama teman-temannya masih bisa tertawa lepas. Itu buktinya mereka bahagia kan???

Lantas terkungkun g yang seperti apa lagi ya? Kalau men urut na mungkin saja ini ya yang orang-orang maksudkan terkungkung barangkali anak-anak kurang ada waktu untuk mereka sendiri, dalam artian untuk mereka bermain berkumpul bersama teman-teman di luar ja sekolah. Kebanyakan anak-anak kita sekarang pagi hingga siang, sekolah, ntar siang hingga sore nya les (les matematika lah, les drum, les biola, les mengaji, de le lel), ntar malam, juga harus mengikuti kelas khusus. Trus kapan waktu mainnya??? Alih-alih mereka menjadi anak yang senangnya bermain dengan kesibukan sendiri, playstations, internet, facebookan.

Beda banget ne pola anak-anak zaman sekarang dengan semasa na. Ya emangkan, seakin maju zaman, pola nya juga semakin berkembang. Dulu, semasa na kecil, usia sekolah dasar itu ya, kalau sudah liburan sekolah, pada ramai ajha gitu anak-anak seumuran ngumpul bareng, main tonggak dingin, cipak cipung, atau bermain sepada rame-ramean, gabung itu laki-laki ma perempuan, tapi ngak ada tuw yang kepikiran aneh-aneh. Miris sebenarnya lihat berita kriminal yang mengatakan kalau ada anak-anak usia belasan udah melakukan tindak asusila ke adek-adeknya. Tahu dari mana si mereka itu ya?

Semakin canggih zaman, semakin berkembanglah tekonologi, dan pengawasan terhadap anak-anak juga harus semakin ketat. Bukan berarti juga mesti over protection. Pengawasan lingkungan, pengawasan teman-teman sebaya, terlebih pengawasan media. Coba lah lihat tayangan televisi sekarang, bisa dihitung lah tayangan-tayangan yang benar-benar bisa disaksikan oleh anak-anak. Ex: Ipin Upin. Lebihnya???tayangan sekarang banyak yang kenak peringatan dari KPI, lebih-lebih infotainment. Kasus KD-Raul tuw, kasian anak-anak yang terpapar televisi yang sempat menyaksikan adegan tidak senonoh itu. Apa tidak banyak juga anak-anak yang jadi lebih dewasa melebihi umurnya? Hari-hari mereka saksikan televisi. Maka, saia sangat setuju, ngak usah ajha lah nonton televisi. Pernah baca buku "Matikan TelevisiMu". sepertinya itu cara bijak yang bisa kita lakukan untuk mencegah dampak negatif yang ditimbulkan oleh media.

Suatu waktu Na pernah ditanya si abang "Ante, di radio ante ada lagu anak-anaknya ngak?". Na jawab "Ngak ada bang". Trus si abang ngomel-ngomel "Uch, ngapa si ngak ada radio untuk anak-anak di sini, ngak ada lagu anak-anak lagi". Jadi kepikiran, oh iya ya, dulu sewaktu na kanak-kanak, emang lagu yang na tahu lagu anak-anak, ada Enno lerian, trio kwek-kwek, Agnes Monica, 4 MC Cilik, Bondan, de le lel. Tapi sekarang, anak-anak sekarang tahunya lagu cinta (yang belum porsi mereka lah itu).

Emang kalau dari segi tayangan, ada ketimpangan, antara tayangan untuk anak-anak dengan tayangan dewasa. Lihat ajha hari-hari infotainment, yang diberitakan konten dewasa. Ujunng-ujung nya anak-anak lari lagi ke PS. Pengenlah kayak dulu lage, ada tayangan anak-anak yang mendidik, biar anak-anak Indonesia, lebih maju, lebih cerdas lagi.
___Selamat Hari Anak Nasional____
Jayalah anak-anak Negrikuw, Indonesia