Tuesday, August 31, 2010

I Love You Mam


My Bunda



Bersamanya aku senang


Tulisan khusus untuk Ibunda tercinta, yang hari ini 01 September 2010, mengulang hari kelahiran yang ke-51


Bunda...
Entah bagaimana dan dengan cara apa
Aku harus membalas kasih sayangmu yang tiada tara
Bunda...
Percayalah, aku akan selalu menyayangimu
Hingga akhir nyawaku

Saat ini yang ingin kulakukan
Menggantikan peluh dan penatmu
Mengahdirkan senyum tawa di hidupmu
Memeluk erat-erat tubuhmu
Menciumimu dan mengatakan
Bahwa aku sangat dan teramat sangat mencintaimu

Masih jelas kuingat
Betapa di tengah tidur nyenyak
Kala malam datang menggoda
Kala kepenatan datang menyapa
Masih sempat dirimu
Masih rela untuk bangun dari segala kenikmatan tidur
Hanya untuk merapikan selimutku
Memperhatikan sekujur tubuhku
Dan menghalau setiap nyamuk nakal yang menghinggapiku

Masih jelas kuingat
Betapa wajah harumuw terpancar
Setahunan yang lalu
Kala itu, aku masuk dalam jajaran pemuncak di kampusku
Senyum bisa melihat senyum bahagiamu bunda
Ketika mendapatkan ucapan selamat dari dekanku

Bunda...
Tak pernah lelah dirimu mencintaiku
Menyayangiku dengan sepenuh jiwamu
Tak pernah lelah mengingatkan akan kewajiban sholatku

Tak bisa kubayangkan
Betapa tidak terurusnya aku tanpamu
Betapa tidak enaknya masak di dapur tanpa berkolaborasi denganmu
Betapa aku tidak akan jadi seperti sekarang tanpa belaianmu
Tanpa kasih sayang dan cinta darimu yang begitu tulus

Bunda...
Aku sangat mencintaimu
Menyayangimu semampuku
Kala kubersedih, ku tahu batinmu juga turut bersedih
Kala aku bahagia, tertawa, dirimu juga kana ikut tertawa
Selalu kupinta kepada-Nya untuk selalu menjagamu
Dalam lindungan-Nya
Selalu memberimu kebahagiaan dalam tiap hal yang terlaksanakan
Bunda...
Bersamamu aku senang

-Peluk ciumku untukmu Bunda-

Monday, August 30, 2010

Menilik Hakekat Buka Bareng

Ada satu kebiasaan yang sepertinya booming di bulan Ramadhan ini selain Sahur, buka, tajil, dan ngabuburit. Ya kebiasaan Buka Bareng atau kalau bahasa kerennya "Bubar". Apalagi kalo usia udah sangat besar, seperti saya ini lah contohnya, udah 24 tahun, hahaha, ajakan buka barengnya juga banyak, mulai dari BUBAR dengan temen-temen SD, bubar dengan temen-temen SMP, bubar dengan temen-temen SMA, bubar dengan temen-temen kuliah S1,bubar dengan adek-adek kampus (organisasi), bubar dengan big fams dan bubar dengan temen-temen kantor. Oh, itu baru pendidikan terakhir saia S1, apalagi kalau saia sudah S3, akan lebih banyak lagi tuw ya undangan/ajakan bubarnya.

Buka barenk, kalau dilihat artinya yaitu buka yang dilakukan bersama-sama. Ibadah sama-sama, tapi bukan ngak sholat bersama-sama ya. Tetapi kenyataan nya yang na lihat belakangan, buka barenk itu lebih kepada seneng bareng-bareng ajha, haha hihi, keasyikan kumpul sampe lupa sholat. Makanya ketika ada ajakan buka barenk na lebih selektif untuk terima. Selain karena kadang harus bertugas di radio sore-sore mpe malam, yang tidak memungkinkan untuk ikutan. Seperti kemaren ada undangan bubar dengan temen-temen blogger bertuah, mohon maaf ngak bisa dateng, karena siaran sore sampe malam. Widiiiiiiiih, tegas banget na kalo milih tempat buka barenk. Apa ajha ya kriteria tempat buka barenk yang na terapin. Simple ajha sich sebenarnya asal tempatnya ada tempat sholatnya. Ketika ada tawaran bubar di pinggir jalan, batin na langsung teriak "No". Karena tuw tempat di pinggir jalan, tak ada tempat sholat, mesjid juga agak jauh dan itu harus nyebrang gitu. Jam berapa akan sholat kalau keadaannya seperti itu?

Dimana pun buka barenk nya, na tetap terapkan pola berbuka seperti di rumah, habis membatalkan puasa dengan buah, atau air, langsung sholat, ntar habis sholat baru makan. Habis makan jalan kaki ke masjid bareng-barenk. Jadi intinya, buka barenk itu bagus ya, karena bisa ngumpul, ketemuan, lepas kangen ma temen-temen lama, silahturahim, tapi harusa bijak juga pilih tempatnya. Jangan asal pilih tempat yang jadi tempat favorit tongkrongan trus buat jaga gengsi mau buka di sana juga. Apa gunanya kan puasa, buka puasa, tapi ngak sholat magrib, sama ajha bo'onk, mending bukanya di rumah ajha lah sama Ayah, sama Ibu.

Saturday, August 28, 2010

Gulai Pucuk Ubi Ikan Salai

Ahaaaaaa, ada yang sukak pucuk ubi? ada yang suka ikan salai? Kalau na sukak dua-duanya lah. Kalau Ikan salai kan emang khas banget ne dari Riau. Enyak ikannya, bederuk-deruk gitu kalo di goreng. Tapi kalau digulai, ya jadi liok sikit, tapi tetap enaaaaaaaak lah.
Makannya masih ditambah dengan ikan nila goreng


Belut Cabe Hijau


Yuuuuuuuuuuuuuuuhuuuuuuuuuuuuu, masak belut lage. Ne Sambal kesukaan di keluarga, favorit gitu, tak ada takut, tak geli liat belut yang like ular gitu. Enaaaaaaak banget.

Belut Cabe Hijau
Bahan:
Belut basah 1/2 kg
Cabe hijau seons dech
Bawang Merah (dikira-kira ajha)
Bawang Putih (dikira-kira ajha)
Asam
Garam
Gula

Bumbu si Belut:
Jahe sedikit
Kunyit sedikit
Bawang putih secukupnya
Garam

Cara membuat:
Potong-potong si belut sesuai selera
Lumuri dengan bumbunya
Tunggu sebentar, biar si bumbu belut meresap
Setelah itu goreng sibelut (jangan lupa untuk menutup gorengannya, soalnya akan meledak-ledak gethoooo, apa namanya tuw ya, tak tahu juga na dow)
Kalau di rumah gorengnya ngak suka yang kering-kering banget lah

Cabe hijaunya: Ulek cabe, bawang merah, bawang putih, garam, setelah itu tambahkan air perasan asam, setelah lumat digoreng jangan lupa tambahkan gula sebagai penyedap.

Setelah digoreng tinggal dilumuru dengan si cabe hijau

Thursday, August 26, 2010

Tumis Pario Udang Halus

Beneran de, kalo udah masak yang pahit-pahit gene, makannya mendadak banyak. Hohoho, mendadak banyak atau mandadak cangok yo?





Bahan:
Satu buah pario, yang sudah dibuang isinya, potong-potong
Udang halus secukupnya
Garam secukupnya
Penyedap (gula secukupnya)

Bawang merah 2 siung diiris tipis
Bawang putih 1 siung diiris tipis
Jahe sedikit ajha diiris tipis
Cabe hijau 3 buah yang sudah dihiris
Daun salam selembar
Daun jeruk selembar
Petai yang sudah dihiris sedikit ajha

Cara Membuat: Tumis bawang merah bawang putih cabe hijau, setelah wangi masukkan daun-daunan, masukkan petai, masukkan pario, masukkan udang kering, tambahkan garam dan penyedapnya.
Udah dech, tinggal tunggu mateng, boleh ditambahkan air sedikit

Si Kakak Senang Berfoto


Agak-agak ngak kuasa menolak ajakan si kakak berfoto. Anak na ne hobi banget berfoto. Apa karena Bundonya juga banci kamera kali yach...Hehehehe. Tau lah kalau sudah berfoto, langsung pasang tampang manis gethooo, buat na senyum-senyum dalam hati. Kadang ngisengin juga, ketika dia ajak berfoto na langsung bilang "Nadak mau bundo dow". Eeee dia malah bilang "Iya ajha lah bundo, foto kita, tegak bundo sana ya, cenyum, biar kakak foto". Wkwkwkwk, malah na yang jadi objek foto dia.




Kalau habis berfoto, cepat-cepat pengen liat, trus bilang "cantik kakak kan ndo?"
(dalam hati pengen bilang, iya cantik ikat rambutnya, hehehe, tapi takut dia merajuk)

Tuesday, August 24, 2010

Gulai Jantung Pisang

Wkwkwkwkw, rada aneh ne masakan si Neyna, masak jantung segala dimasak ya? Maklum lah, na kan tinggalnya neng ndeso, jadi masih banyak tanaman pisang disekitar rumah, kelapa juga banyak. Jadi ya dimanfaatkanlah itu bahan-bahan, dari pada Mubazir kan

Tapi gulai ne rasanya lemak, karena pake santan gitu kali ya, trus cabenya juga kan cuma dihiris-hiris gethooo, jadi ngak pedes. Rasanya?Mantap cuyyyyyy



Samba Lado Rimbang

Wuuuuiiiih jo bana tabukak salero makan pakai samba lado ko mah.

Bahan:
Rimbang (segenggaman)
Petai (secukupnya ajha)
Teri (secukupnya juga)

Bahan yang dihaluskan:
Cabe hijau 10 buah
Bawang merah 3 buah
Bawang putih 1 siung
Jeruk nipis
Garam secukupnya

Daun kunyit
Daun Jeruk
Garam
Gula

Cara membuat:
Goreng terlebih dahulu bahan hingga layu (sebentar saja), lalu angkat.

Tumis bumbu yang dihaluskan, tambahkan daun kunyit dan daun jeruk, hingga matang, masukkan bahan yang sudah dilayukan tadi, aduk rata, tambahkan garam, dan gula (sebagai penyedap).

Thursday, August 19, 2010

Puding Sa-Sa

Pandai-pandai Na ajha buat namanya puding Sa-sa (ndak papa lah ya, kan na yang buat, ya kan?)
Pusing Sa-sa tuw, kepanjangan sa-sa nya (santan saka). Saka tuw bahasa kampoung na artinya gula merah. Ne puding jadul banget dech, udah dari zaman saisuak. Dimana-mana juga ada biasanya, kalo ada acara mendoa-mendoa gitu, orang sering buat. Buat puding ini, hadiah untuk si kakak yang ngak ngerecokin na pas masak.

Bahan-bahan:
1 Bungkus agar-agar bubuk
5 gelas santan (kurleb 1100 ml)
200 gram gula merah
garam sedikit
Daun pandan

Cara Membuat:
Campurkan ajha semua bahan, trus dimasak diatas api sedang sambil diaduk-aduk, hingga mendidih. Terakhir tinggal dituangin ke cetakannya.


Menu Berbuka 9 Ramadhan

Kalau puasanya ikhlas, yang masakin juga ikhlas, trus makannya juga ikhlas (halaaaaaaaaah, kalo urusan makan, ngak ada de yang ngak ikhlas). Menu berbukanya kumplit, kumplit, kumplit. Siangnya dikasih gulai langkitang sama kakak ipar, pulang-pulang sampai rumah, ibu pun sudah selesai masaknya dengan semur ayam, oseng buncis dan perkedel tahu.



Perkedel tahu



Semur Ayam




Oseng-Oseng Buncis



Gulai Langkitang

Dapet Kiriman Pizza Dari Mbak Adel


Yuhuuu, senangnya kalo dapet kiriman pizza gini. Kalo bisa sering-sering dech (halah, langsung kena plak sama Mbak Adel, ampuuuuun mbak Adel). Kiriman nya dateng sebelum puasa. Seru lah kalo makannya ditambah mati lampu, seneng-seneng seneng. Hehehe. Makasih Mbak Adel. Dikirimin sak minum-minumnya. Kata Mbak Adel, khusus untuk Na, milkshake. Horeee, horeee.



Penampakan pizza nya sebelum dihabisin.


Beserta Milkshake nya (Ketahuan, punya siapa ne ya)

Ramadhan, Momentum Tepat Perbaikan Diri

Bukannya di luar ramadhan ngak bisa memperbaiki diri dari yang namanya kesalahan, dari yang namanya kekurangan. Trus kenapa harus Ramadhan???Hah, ramadhan tuw kan bulan baik seribu bulan. Apa-apa ibadah yang kita lakukan Allah janjikan balasan yang berlipast ganda. Tadarus satu ayat ajha serupa khatam Al-quran. Nach kan???ini dia jadi landasan momentum perbaikan diri. Apalagi kalau ramadhan, semua serba dijaga. Sebagai latihan untuk kontrol emosi.

Kalau selama ini serba ngak teratur hidupnya. Nach di ramadhan, mau ngak mau kita harus teratur. Mulai dari ibadah sunnah makan sahur, ntar waktu imsak udah harus menahan, trus puasa. Ngak lucu ya, puasa tapi sholatnya bolong-bolong. Trus sampe waktu berbuka pun harus serba teratur, emosi harus dijaga, nafsu harus dijaga, kalau sembrono ajha pas buka, yakinlah habis buka ndak bisa napa-napain. Ngak percaya, coba dech, pas buka langsung santuang makanan yang banyak tuw, tapareok dinyow tuw mah.

Satu hal yang buatnya sangat senang dengan ramadhan. Tepat ramadhan 9 tahun yang lalu, menjadi moment kebangkitan diri buat na. (jiah macam kebangkitan nasional ajha). Kenapa na bilang jadi moment kebangkitan diri. Karena pada masa itu, na sekolah SMP. Ya seperti sekarang ini, pada waktu itu, ketika ramadhan, kita sekolah, namun ada yang spesial, kalau anak-anak sekarang pakai seragam, kalau kita pakai busana muslim. Jadilah hampir sebulan kita berbusana muslim. Lepas dari itu, rasanya berat untuk melepaskan jilbab, seperti hari-hari biasanya itu. Sebenarnya masih telat untuk berjilbab, masak kelas 3 baru sadar untuk menutup aurat. Tuw dasar na mada bin bebal, jadi telat tobatnya.

Nach itu dia jadi moment kebangkitan diri na, untuk menutup aurat. Makasih Allah. Makasih na udah dituntun masuk ke SMP itu yang membuat kebijakan pada saat itu sekolah dan memakai busana muslim. Terima kasih na masih dikasih umur pada ramadhan 9 tahun yang lalu itu.

Monday, August 9, 2010

Marhaban Ya Ramadhan

Alhamdulillah, ngak lama lage kita puasa. Pastinya sebagai manusia kita ngak lepas dari silap dan salah, baik yang disengaja atau pun tidak. Untuk itu, mohon maaf lahir batin ya teman-teman.
Kasih pantun siket yee (kite ne tinggal di tanah melayu kan?)

Pekanbaru kota bertuah
Pacu jalur di Taluk Kuantan
Jika ada silap dan salah
Kiranya mohon dimaafkan

Wali kota Pekanbaru Herman Abdullah
Pasar wisatanya di Pasar Bawah
Ramadhan bulan penuh berkah
Semoga kita beroleh magfiroh

Terima kasih juga untuk Tim Manajemen Emosi atas kartu ucapannya



Saturday, August 7, 2010

Chan Care-Man

Sebuah postingan khusus untuk my sohib Chandra Kirana (bia sanang lo hati Ichan setek kan). Na agiah judul Chan Care-man (baco;chan caremen, wkwkwkwk, pembodohan ko, harusnyo kan baconyo chan karemen). Hahaha jauah bana dari yang dibayangan si Ichan. Itu baru untuak judul ajho baru. Terinspirasi dari sinetron "Kecil-Kecil Jadi Manten", kan ado tuw, cenceremen, wkwkwkwk (semoga Ichan ndak beranglah, tapi kalau berangpun, na hampok se lah Chan jo ice cream). Ndak ba'a kan chan? Ha kan ndak ba'a kecek chan dow.

Ndak ingek bana, ntah bilo lah pertamo kali kenal jo si Ichan ko. Yang na tahu na kenal si Ichan ko, nyo add friendster na. Dulu kan alun alo fb lai. Kebetulan kawan si Chan ko, adiak-adiak junior na di kampus. Sabana nyo si Chan ko emang dibawah na sekolahnyow mah, tapi dasar nyow kagadang-gadangan, dipanggia nyow se Na, ndak pakai kakak gai dow. Hah, abis tuw booming-booming fb, eee ado lo nyow di fb na, ndak ingek na tuw dow, ntah sia yang mengadd duluan. Jadilah na bakawan juo di ef-be yo si Candra Kirana ko. Hari berganti, tanggal berganti lo, tapi kalender ndak baganti (maklumlah dirumah na ndak do kalender baru, maibo bana na yo, makonyow na acok ndak tahu hari, ndak tahu tanggal).

Sampai Event perayaan sepakbola teranyar di dunia berlangsung. Eeee, ntah manga lo, na samo si Ichan ko bataruah untuk kemenangan Jerman. Wakatu tuw, Jerman main lawan inggris, kalau ndak salah. Ohooo, so pasti na macik Jerman (walau Jerman cuma di posisi ka tigo, ndak ba a lah, dari pado Argentina, harus pulang kampuang duluan, wkwkwkkw). Ternyato sadara-saodara, manang Jerman, jadilah na dibalian kaos Jerman samo si Chandra Kirana ko, padohal kalau Jerman kalah wakatu tuw, na yang harus buek-an piscok mah. Yeyeyeye, ndak jadi na buek an piscok, ahay sanang hati na.

Sajak itulah, na jo si Ichan es-em-es an (cuma sms talok baru nyow, telpon sekali-kali, miscall sekali-kali lho, wkwkwkwk). Dan ternyato, apolaaaaaaaaaaaaaaah si Ichan ko. Ternyato pas sobok jo inyo, onde mande, gadang nyo badannyo, macam raksasa lai.Tapi alun tahu urang badan gadang ko, gadang lo itunyo, itu hah nyali nyow...Ndak hanyo gadang badan se dow, gadang lo pede nyo, alias ke ge-eran, wkwkwkwk (ampuuuun chan, jan berang chan, kalau berang baok se lah na ka sate madura dih, traktir na makan sate, otree chan). Tapi sodara-sodara, walaupun Ichan tuw, maleh mandi, maleh gosok gigi, tapi nyo care-man mah woi...Iyo tuw, ndak duto gai na dow, serius mah, nyow care bana mah. Itu se lah dulu caritonyo, paruik na litak hah.wkwkwkwk

Thursday, August 5, 2010

Redenominasi

Berat judul postingan kali ini. Ape pasal???Ya lah, ne sedang gencar-gencarnya ne pembahasan di negeriku Indonesia, Redenominasi. Ya, apa itu redenominasi? Jika diartikan secara sederhana, menurut Gubernur BI, Darmin Nasution (semarga kita Pak), redenominasi itu adalah penyederhanaan penyebutan satuan harga maupun nilai mata uang. Maksudnya pecahan mata uang disederhanakan tanpa mengurangi nilai dari uang. Misalnya 1.000 jadi 1 ajha lage.

Nah, pembahasan yang paling up to date ini juga hadir di tengah-tengah acara kumpul kluarga. Responnya ya bermacam-macam. Ada yang Angguk-angguk ajha (ntah ngerti ntah endak), ada juga yang bilang "Hah, turun nilai pitih wak tuw, ancaklah wak bali ameh ajo lai". Ada yang senang-senang ajha, ada yang takut, beragam lah. Capek pulak na menjelaskan nya. Pastinya rencana redenominasi rupiah ini, ndak loncat kayak kodok, takana maloncek. Ada tahapan-tahapannya. Jadi ngak usah takut dulu lah. Ikuti ajha jalurnya.

Tahapan-tahapan yang sudah dipersiapkan BI untuk penyederhanaan nilai rupiah ini. Tahapannya, yaitu:
  • Masa Sosialisasi (2011-2012)
  • Masa Transisi (2013-2015), dalam masa ini harga barang nantinya akan ditulis dalam dua harga, yaitu harga rupiah lama dan harga rupiah baru
  • 2016-2018, uang kertas rupiah yang kita pakai sekarang akan benar-benar habis, dan BI akan melakukan penarikan uang lama (yang mau koleksi boleh lah tinggalin satu kan)
  • 2019-2020, akan mempergunakan mata uang rupiah yang baru, namun nilainya lebih kecil (ndak perlu bawa uang tumpuk-tumpuk/segepok lagi). Untuk mata uang kecil, berlaku uang koin dan pecahan sen (kembali kek zaman saisuak n kek di Malay, ada uang kicil-kicilnya)
2020 dan kedepannya kita akan pake uang yang baru itu lage. Sekali lage, bukan uang kita nilainya turun, cuman disederhanakan ajha, dan kita ngak perlu bawa uang sekoper lage, enak kan?Canggih ngak tuw, udah kek di Malay ajha kita. Bayar busway, 3 Rupiah, hehehe, agak aneh tuw pasti ntar awalnya, pi ikutin ajhalah alurnya.

Tuesday, August 3, 2010

Ziarah To Rao

Dari jauh hari sudah direncanakan. Karena ini emang harus direncanakan dengan matang. Selain tempatnya jauh, selain itu harus ngumpulin dengan kumplit anak-anak Buya. Sebulan sebelum berangkat si Ayah serta adek-adek dan abang-abangnya udah telpon-telponan. Na pun tak tahu perencanaan diam-diam itu (habisnya na ndak dikasih tahu dari awal), jadi ngak salah juga lah kan, kalo na sudah punya rencana sendiri di akhir July (nonton pacu jalur).

2 minggu sebelum berangkat Ayah sudah tanya sama Na, "Neyna ikuik ka Rao?"...Trus na bilang "Orang mau pergi ke Taluak yah". Trus ayah bilang gene "Ndak usah ka Taluak lo lai, ka Rao ajolah". Sempat bingung, galau, pusiang saya memikirkannya (bingung...bingung...kumemikirkan).

Baiklah, hati Na udah mantap mau ke Rao saja (papi, mami, maafkan Na ndak bisa pulang ke Taluk tahun ini). Seminggu sebelum berangkat, udah mantap ne persiapan, eh tiba-tiba uda Sidi bilang gene ke Ayah "Awak alun pasti bisa ikuik lai pak etek, hari paujan lo hah, kalau naiak aie beko payah lo si Eva maangkek barang". Kakak sepupu na kak Eva tinggalnya kan di kampuang dalam, yang rawan untuk terendam di kala banjir. Okay lah kalo begitu. Hal yang sama pun terjadi sama Pak Itam, rencana awal Yanda yang akan bawa mobil, kebetulan Yanda baru saja masuk kerja setelah libur karena sakit kemaren, masak mau libur lage, bisa-bisa kenak pecat. Hampir tiap malam lah Ayah, Tante-tante dan om-om na telpon-telponan, buat mastiin siapa yang bakal bawa mobil (rasailah, ndak berani juo lah baok oto tuw lai, wkwkkw).

Tanya bang Eep, eee taunya bang Eep ndak bisa libur. Ayah pun gencar buat nyari siapa yang bakalan bawak mobil. Alhamdulillah pas telpon bang Dedi, si abang baru nyampe dari Rengat. Jiaaah, dua hari sebelum berangkat bang Dedy bilang gene ma Ayah "Papi pai lo pak ka Padang,tingga Cici surang di Rumah, tapi kalau capek Papi pulang bisa Dedi pai". Tapi Uda sidi dah bilang gene ma ayah "kalau ndak ado juo yang baok oto pak etek, bia lah awak ajho yang pai".

Di mobil satu lage akhirnya Om Man yang bawa mobil, trus pagi Jumat ayah telpon bang Dedi, alhamdulilah Papi bang Deddi udah pulang dari Padang. Agak susah juga jadinya karena beberapa hari sebelum berangkat hape Ayah jatuh trus diantak oto, hancur layarnya tapi masih bisa buat telpon n terima telpon.

Paginya na nyuci banyak banget, latiah. Mana Jumat masuknya jam 12, jadi jam 11 udah harus pergi. Belum packing. Na pikir kan na biasanya dijemput jam 7 trus bisa packing bentar. Eeee tau tak, na tuw ternyata dijemput lame sangatlah eee. Belumut juge rasenye nunggu tuw, dah tetido-tido pulak na sambil nonton tipi di Radio.

Eee rupanya jemput Pak Dank, kesana kemari, wajarlah lamaaaaa. Trus sampe rumah, packing, trus sholat. Sangkin buru-burunya sampe handuk lupa bawak, roll on jugak (haaaaaaaaaaaaaaaaaaah, parah).

Jam 9 kurang kita berangkat, ada bang Dedi, Ayah, Pak Dank, Ibu, Na, Kakak ipar dan abangna, trus anak-anaknya. Karena kelamaan nunggu dan lupa makan sebelum berangkat, akhirnya jam 12-an gitu makan di Kelok Indah, trus ngumpul lage dengan rombongan mobil satu lage yang sudah satu jam-an dulu dari mobil Na. Ketemu di Cahaya Bulan, minum dulu, dingiiiin, hehehehe.

Habis dari Cahaya Bulan, Pak Dank pindah mobil. Karena kan mobil Pak Itam mau ke Maninjau, sementara rombongan na langsung ke Bukit Tinggi. Kayaknya si Pak Dank, udah gembung tuw perutnya, hacks hacks hacks, padahal bang Dedi bawa mobil juga ngak kencang-kencang banget pon.

jam 3 kurang sikit memasuki Koto Marapak, soalnya kita mau nginep di rumah makwok dulu kan. Udara udah dingin banget. Sampai di depan sebuah warung, ayah dan bang Ded ngeliat ada cewek pakai telekung sedang duduk di depan kedai itu. Trus Ayah bilang gene "Lah betilakuang urang, lah subuah ko?". Udah mungkin yach, soalnya di Cahaya Bulan tuw ajha tadi kita dah jam 2 gitu Yah. Mungkin ne dah subuh. Bang Dedi bilang gene "jangan mungkin-mungkin lah Neyn, liat dulu jam berapa sekarang, abang rasa belum Subuh lage ni". Eee iya pulak ya, ngak ada salahnya pulak diliat jam dulu. Astagfirulah, baru jam 3 subuh. Trus tuw napain orang udah pake telekung. Ayah bilang, emang dulu di kedai itu ada perampokan, trus yang punya mati di bunuh. Ya Allah horor gitu ya.

Sumpah, sempat merinding gitu ngedengar cerita Ayah. Sampe si abang disuruh tidur sendiri ngejaga barang-barang di mobil, ngak berani. Malah bilang gene ke Ayah "Ayah ajooo lah yah, maleh urang". Padahal na yakin si abang tuw takuuut tuw. Jarak rumah makwok ke jalan agak jauh, trus jalannya kecil, makanya mobil parkir di tepi jalan ajha.

Sampe rumah makwok, na ngak mau lah ngelewatin waktu tidur. Karena diperjalanan, ngak ada tidur. Tapi sodara-sodara, ngak tahulah, dah hampir tertidur kebayang-bayang yang tidak tidak, jadi takut sendiri na, rasa-rasa yang dilihat ayah itu hadir, takuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut.
Tapi kek nya adalah tertidur setengah jam, karena harus bangun untuk sholat, Ya Allah,, air di rumah makwok ne dingiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiijn kali lah hah. Rasa air es ajha hah. Trus melanjutkan tidur lai bentar. Trus bangun, sarapan, hacks hacks hacks, lamak bana hiduik na ko. eee catet ya, ndak pake mandi. Soalnya baju-baju masih ada di mobil, males ambil, yang ada cuma sikit gigi di tas yang na bawa. Habis sarapan, cabut dari rumah makwok, karena ibu sama ayah mau ziarah ke makam Apak dan Biai Ibu. Kita ke rumah angah. Kata ayah, "awak se lah yang pai, anak-anak ko tinggaan lah, bia bisa lo nyow mandi, atau lalok". Terima kasih ayah atas pengertiannya. Jalan kaki ke makam Biai si Ibu. Kami yang tinggal, bantai mandi, dingiiiin, tapi ndak sedingin di rumah makwoklah kalo di rumah angah ne.

Yang mandi, mandi juo, yang lalok lalok juo. Sempat juga ke rumah makwo Nur (Teknur), heheheh, baru cerita sebentar eeee dah kenak panggil sama Angah, "Jhooooon, pulang lai". Yach pulang lah Na dengan si abang. Sambil jalan ke makamnya Apak si Ibu, kebetulan makamnya sudah bersih, jadi ngak begitu lama di sana. Trus kami ke rumah makwok lage untuk jemput makwok dan pasukannya nya. Trus nunggu di simpang tembok, menunggu rombongan satu lage, eee ndak tanggung lama nya dow, tertidur pulak na di mobil, belum juga orang tuw sampe lage. Trus pas udah nyampe, kami cau ke Rao jam 11-an. Kami disuruh duluan sama mobil yang satu lage, kebetulan belum isi minyak.Eee ndak berapa jauh ditelponin suruh pelan-pelan, Ya amyuuun, padahal cuma lari 80 ajha kok, ndak tekejar sama orang tuw dow. Udah pelan-pelanpun masih belum tekejar, akhirnya berenti di kedai kopi untuk minum kopi sambil nunggu orang tuw sampai. Eee kedainya mantap pulak, tempat pipisnya langsung ke air yang berbatu-batu besar. Awalnya ragu juga mau pipis di alam terbuka gitu, tapi si kakak ipar bilang gene "ndak papa dow ndow, biar bunda tutupkan dan bunda jagain". Baiklah karena dah kebelet, na pipis juga di sana,. Dinggin airnya, sejuuuuk. Eee habis pipis bukannya langsung minum teh yang dipesan, malah maen air di sungai itu betiga beradek, hack hacks, dasar katrok, ndak pernah mandi di sungai yang berair dingin dan berbatu2an besar. Eeee di sana, ada juga kincir air. Akhirnya mobil yang satu lage sampe, jiiiiiah ternyata Pak tam dan rombongan lainnya ndak kalah katrok dari kami, mau main air jugak, wkwkwkkw.

Habis minum, cabut lage ke Rao, melewati tikungan tikungan manis yang cukup mahoyak-hoyak perut. Duw, ampuuun emang dengan tikungan-tikungan yang begituan. Trus singgah di mesjid yang tidak begitu jauh dari tempat berenti minum tadi, buat sholat Zuhur. Abis itu lanjuttt lage. Sampe akhirnya si tante telpon bilang, berenti dulu, lapaaaaaaar. Gimana ngak lapar ya, orang itu dah hampir 2, cari-cari tempat yang mantap, eee belum ketemu-ketemu, lanjuuuut terus. Sampe akhirnya nemu bendungan. Pemandangan nya cukup okelah. Namanya "Bendungan Panti Rao".

Menikmati makan siang dengan lauk, rendang pensi, mmmm...maknyuz. Selain perut udah lapar banget, ditambah lage makan dialam terbuka dengan lauk yang belum pernah na makan. Lezaaaat, Alhamdulilah, jam 3 kita cabut...Di bendungan sempat narsish-narsihan pulak dulu.

Hampir ashar sampai di Rao. Ya Allah, terharu na melihat penyambutan dari masyarakat sekitar ketika kami datang. Penuh dengan pelukan, air mata....Ow Tuhan, sebegitu dihormatinnya BUya di sana, sampai-samapoi ketika anak-anaknya datang disambut dengan sambutan yang sungguh luar biasa. Pengen nangis rasanya melihat keadaan yang seperti itu. Jadilah acara temu kangen gitu. Apalagi kan kali ini semuanya lengkap. Berpuluh-puluh tahun, mereka masih ingat. Ayah ajha ngak kesana udah 38-tahun. Semua di tanyain. Si tante yang paling kecil yang lucu, tengangak-ngangak ajha dia. Habisnya pas buya meninggal umurnya masih 2 tahun gitu, mana dia kenal dengan orang-orang sana, apalagi untuk bisa berbahasa sana. Tapi orang-orang sana tetap kenal lah. Rupanya yang paling terkenal tuw makwok, karena dia anak tertua, dan waktu kecil suka menyanyi bersama buya.

Coba Buya masih ada ya, pasti na tuw yang sering nyanyi sama buya, secara na pinter nyanyi...ya kan? (ya ajhalah).Habis temu kangen-kangenan, dilanjutkan dengan sholat Ashar, nah kali ini giliran di tempat uduknya lage jadi ajang kangen-kangenan. Kebetulan dekat uduk itu ada pancuran, tempat masyarakat mandi, mencuci. O alah, keluar lage tuw air mata. Habis ashar, na dipanggil ayah, kata ayah "Yok kita lihat kuburan Buya". Ada sesuatu yang Subhanallah gitu. memasuki komplek makam, kok wangi ya. Ngak tahulah wangi itu berasal dari mana. Makam buya tepat ada di depan mesjid. Na usap nisan nya yang sudah agak buram, na baca tulisan di nisan itu. Sudah menjadi kebiasaan na kalau ke makam, na pasti baca nisannya. Kebetulan makam buya sudah selalu bersih tiap harinya. Ngak lama, yang lain pada berdatangan...Habis itu kita semua kirimkan doa dan tahlil khusus buat buya. Rinai pun turun, kami berteduh dibawah atap kuburan anak si pemilik tanah untuk mesjid itu.

Si Abang rupanya udah duluan ke makam buya, makanya pas kami berdoa, dia ngak ikut lage. Dia sibuk dengarkan cerita warga sekitar. Kata si abang, mereka cerita, katanya tiap kamis malam jumat kuburan buya itu wangi, tapi tadi ajha Na kecium bau wangi. Anak si pemilik tanah wakaf itu dateng juga sebelum yang lain pada dateng. Ketika hanya ada na, ayah, bang In, bang Hen, Pak Itam dan Pak Dank. Kebetulan makam buya agak mereng, ngak sama kayak kuburan yang lain, jadinya si Bapak itu bilang, alangkah bagusnya kalo diluruskan. Dia bahasanya bahasa minang de kayaknya. Ngak kayak masyarakat sekitar yang berbahasa Batak. Dulu kata si bapak itu pas BUya meninggal dia baru kelas satu Es De, dia masih ingat betul betapa ramainya orang yang datang ngelayat. Menurut beliau lage, selain Buya seorang buya, BUya juga pandai bergaul, makanya lebih selapangnan bola orang yang hadir pada waktu itu.

Pulang dari Rao, kami ke Maninjau, dan rombongan satu lage ke Rumah Makwok di Bukit (gantian). Sebelum sampai ke Maninjau, walah ngak kalah serunya harus melewati hutan lindung yang sepi dan gelap. Sempat was-was karena katanya rawan kejahatan di hutan itu. Tapi untungnya Allah selalu ngelindungi. Menjelang sampai Maninjau, singgah dulu di Lubuk Basung buat beli nasgor dan sate. Karena di rumah tante ngak ada nasi. Kak Ika, seharian di rumah nenek, jadi ngak masak. Jam 11-an makan, trus lalok lai, ngak terasa udah pagi ajha. Maninjau emang indah banget, pagi-pagi na, ayah sama bang dedi jalan-jalan dulu ke rumah pakwo, di tepi danau. Ngeliat danau dari tepi indah juga, tapi agak ngak nyaman, dengan bau amis, dan bau pelet. Pulangnya masih harus beli peyek Rinuak di dekat PLTA. Makan dulu, pakai pagede rinuak, dan panggang lauak dari karambah, hmmmm, lezatos euy. Rencana awalnya mau ke Padang dan Pariaman, tapi kondisi sudah tidak fit, makanya diputuskan untuk langsung ke Bukit Tinggi. Melewati ngarai yang sungguh indah. Sempat singgah di seputaran jam gadang, na ngak turun untuk berfoto, karena kondisi perut tidak memungkinkan, masih mual. Padahal Na dijalan dah sempat muntah, masuk angin sepertinya. Dari Bukik melaju saja, sampe berenti makan di kelok indah kembali. Lage-lage na ngak turun makan, kepala pusing, perut mual, lemas, na hanya pengen makan jeruk ajha. Si kakak lah yang tahu kali apa yang dimau bundonya ini. Lari-lari dia ke mobil cuma untuk bilang bundo mau jeluk? trus buru-buru lage mengantarkan jeruk buat na. Akhirnya sampe di rumah jam 8-malam. Istiraht...Jam 10, perut mintak makan, tepaksa keluar lage buat cari nasi goreng sama Ayah.

Trip To Rao, Nice Trip, tapi buat lemas...