Friday, December 3, 2010

Analisis Wacana Citra Perempuan Dalam Film "Berbagi Suami"

Ini ne, hasil kerja keras selama 4 tahun di S1 Ilmu Komunikasi na.

Analisis Wacana Citra Perempuan Dalam Film "Berbagi Suami"
Abstrak

Keberadaan perempuan di dalam sebuah film, memang sangat penting. Tanpa perempuan, film terasa kurang berwarna. Namun tidak jarang permasalahan terhadap perempuan seperti: perempuan hanya dijadikan sebagai objek pelengkap serta perempuan hanya dieskploitasi keindahan tubuhnya kerap dimunculkan dalam film-film yang ada, terutama di dalam film Indonesia. Untuk itu peneliti merasa tertarik meneliti bagaimana pencitraan tokoh perempuan dan bagaimana perempuan dalam menghadapi permasalahan poligami dalam film ”Berbagi Suami”.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pencitraan tokoh perempuan yang ditampilkan dan untuk mengetahui bagaimana perempuan dalam menghadapi permasalahan poligami dalam film ”Berbagi Suami”. Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah film ”Berbagi Suami”, sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah adegan, dialog tokoh, latar dan setting maupun voice over yang menyangkut pemberdayaan perempuan dan permasalahan poligami. Analisis yang digunakan adalah analisis wacana yang diperkenalkan oleh Teun A. Van Dijk, dimana ada tiga dimensi yang membentuk wacana, yaitu teks, kognisi sosial dan konteks sosial. Sementara untuk analisis pendukung, menggunakan analisis semiotik Roland Barthes

Hasil dari penelitian ini terungkap bahwa citra perempuan yang ditampilkan dalam film ”Berbagi Suami” terdiri dari dua pencitraan, yaitu: citra positif, yang menggambarkan bahwa perempuan sebagai makhluk yang cerdas, berwawasan, patuh terhadap suami, patuh terhadap agama, tidak suka bergunjing, memiliki pemikiran yang dewasa, tidak mudah terpancing emosi, dan peduli terhadap kehidupan sosial. Sementara citra negatif melihatkan bahwa perempuan sebagai makhluk yang emosional, pemikirannya belum maju, cemburuan, suka seks, pasrah dengan keadaan dan juga materialistis. Sedangkan perempuan dalam menghadapi poligami, juga digolongkan ke dalam dua kelompok, yaitu: perempuan yang menerima poligami dengan alasan agama, seks, kebutuhan (sandang, pangan, papan) dan juga kesenangan diri. Perempuan yang menolak poligami dengan alasan poligami hanya dijadikan alasan pembenaran bagi laki-laki yang tidak dapat menahan nafsu, serta dengan alasan tidak ingin terbagi kasih sayang yang diterimanya.