Saturday, February 19, 2011

Pinyaram a.k.a Cucur

Happy sunday...Minggu lagi ni. Rasanya baru kemarin Minggu di saat meninggalkan rumah dari pagi hingga malam, mana tidak ada Ibu lagi karena harus menghadiri resepsi kakak sepupu di Bukit Tinggi. Kasin Ayah minggu kemarin, terpaksa makan di rumah makan, sendirian tidak ada Na yang menemani karena Na harus kerja. Kembali ke Minggu pagi, meskipun tidur lumayan larut tapi tetap bangun pagi. Agak malam pulang dari wirid keluarga (Ku-Ka) di rumah kak Helen. Tetapi rasa-rasanya agak lebih senang, karena dari siang bersama pacar hingga pulang wirid, membicarakan banyak hal, belajar banyak hal juga (pura-puranya privat lah gitu). 

Pagi ini kita sarapan pinyaram yuuuk atau sebagian ada juga yang mengatakan cucur. Tetapi karena ini bawanya langsung dari Bukit Tinggi kita labeli pinyaram aja ya. Ini juga baru dibawain tadi malam sama angah yang ke Pekanbaru bersama pengantin baru. Kemarin sebenarnya pas ibu pulang sudah membawa pinyaram buat oleh-oleh tetapi sudah habis laris manis, makanya nitip ulang minta dibawakan lagi, soalnya "Tagantuang Suok" lah istilahnya ni. Pinyaram yang biasanya berwarna cokelat karena dibuat dari gula kelapa. Tetapi sarapan pagi ini bukan pinyaram biasa (halaaah, kok jadi mirip lagu Afgan ya bukan cinta biasa). Pinyaram ini warnanya putih karena menggunakan gula tebu dan santannya benar-benar terasa. Namun meskipun terbuat dari santan dan campuran tepung beras, pinyaram bisa tahan lama. Seminggu masih kuat dia bertahan...Soal rasa, jangan ditanya? enak dank...gurih karena menggunakan santan. Manis juga tetapi manisnya tidak membuat eneg.

Monday, February 14, 2011

Tak Ingin Menggantang Asap Kembali di Kota Bertuah Ku

Pekanbaru tidak hanya terkenal dengan Bertuah nya (Bersih, Tertib, Usaha Bersama, Aman dan Harmonis). Kota yang perkembangannya cukup pesat ini beberapa tahun belakangan mendapatkan tambahan musim. Ya, tidak hanya memiliki musim hujan dan musim panas namun kota ini juga memiliki musim asap. Berbagai julukan kembali diberikan untuk kota tercinta ini. Mulai dari kota asap hingga kota salai. Miris sebenarnya sebagai orang yang terlahir dan besar di kota ini mendengar julukan dasyat yang diberikan teman-teman yang sebagian besar berasal dari kota lain. Namun, haruskah terus berlarut tanpa aksi yang lebih nyata untuk kota tercinta?

Kabut asap yang terjadi di Pekanbaru akibat dari aktivitas pembakaran lahan yang dilakukan dengan cara membakar. Aksi ini kerap dilakukan di beberapa kabupaten dan kota di Riau. Dampaknya, kota tercinta terkepung asap. Dampak ini tidak hanya terjadi di Riau, bahkan negara tetangga turut serta terkirimi bingkisan di kala musim panas ini tiba. Pembakaran lahan kerap kali dilakukan pada saat musim panas, dimana api akan cepat menyebar sehingga lahan yang awalnya tidak ingin dibersihkan turut serta terbakar. Hal ini biasanya dilakukan agar proses pembersihan lahan menjadi cepat, namun kurang memikirkan dampak dari tindakan serba instant ini. Akibat dari asap yang betah menyelimuti kota ini tentu saja sangat tidak baik. Mulai dari masalah kesehatan, penerbangan serta pariwisata turut terganggu. Pemikiran saya juga ikut-ikutan terganggu dengan label yang diberikan oleh teman-teman terhadap kota ini di kala musim asap datang melanda.

Namun tahun ini dapat bernafas sedikit lega karena kendati cuaca panas, aktivitas pembakaran lahan sudah mulai berkurang. Tentu saja kasus ISPA turut menjadi berkurang. Terbukti, meskipun musim tambahan ini masih betah bernaung namun keparahannya sudah semakin berkurang jika dibandingkan tahun-tahun yang lalu. Kelegaan semakin berarti ketika Pemerintah Kota Pekanbaru telah menjalankan program "Kamis Menanam" nya. Dimana setiap Kamis, ada sejumlah tanaman buah yang ditanam di Pekanbaru. Dipastikan beberapa tahun ke depan Pekanbaru sudah dipenuhi tanaman-tanaman berbuah. Tidak hanya pemerintah yang peduli terhadap kondisi ini, karena hampir semua lapisan elemen masyarakat turun tangan melakukan gerakan penanaman tanaman buah di Pekanbaru. Beberapa ruas jalan sudah tertanami dengan indah tanaman Mahoni dan juga Matoa. Sungguh indah bila semua jalan di Pekanbaru nantinya ditanami tumbuhan tersebut. Selain menambah keindahan kota, memberikan kesejukan, tanaman ini juga dapat dikonsumsi buahnya seperti halnya Matoa yang sangat lezat. Saya dan juga teman-teman dari Kelompok Mahasiswa Peneliti dan Pengembang EM Universitas Riau juga mencoba melakukan sedikit aksi nyata dengan melakukan pembukaan lahan tidak dengan cara dibakar. Ketika menyiangi lahan penelitian, kita juga tidak membakar rumput yang ada namun memasukkan kembali ke dalam tanah. Memang memerlukan tenaga lebih, tetapi jika itu baik kita sepakat tidak masalah untuk mengeluarkan tenanga lebih. Toh kita juga bisa menyuplai energi lebih sebelum mengeluarkan tenanga lebih tersebut. Aksi kecil ini jika dilakukan oleh banyak orang tentunya juga akan turut serta mengurangi asap yang menjadi musim ketiga di Pekanbaru dan membantu mengikis pendapat kota asap serta kota salai dan mengembalikan musim di kota Bertuah menjadi musim yang semestinya lagi. Aksi penanaman juga dilakukan hingga ke tingkat pekarangan rumah. Bukankah hal besar dapat dimulai dari hal kecil? Jika hal ini dilakukan berkeseinambungan, tentu saja beberapa tahun lagi masyarakat kota Pekanbaru tidak lagi menggantang asap di kota Bertuah ini.



Thursday, February 3, 2011

Perkedel Tahu

Horay, libur tlah tiba, horay horay. Waduw ada apa ini sebegitu bahagia di hari libur ya? Gong xi, gong xi...Hari ini imlek, kebetulan off siaran, jadi harus dimanfaatkan sedemikian rupa. Dari pagi beberes, cuci ini itu, nah agak siangan dikit dilanjutkan dengan masak. Yuhuuuuuuu, akhirnya menyapa manis dapur kembali. Ngubek-ngubek kulkas, ketemu tahu, wortel, udang pukul. Ahaaa, pikiran menembus level 935. Langsunglah otak ni menginstruksikan membuat perkedel tahu. Tetapi ini perkedel tahunya, apa yang ingat diotak ajha. Ngak pengen lihat buku masak, jadi masaknya apa yang dipikirkan ajha (hebat pulak Bundo ini yach). Baiklah...baiklah, mari memasak.

Perkedel Tahu

Bahan:
10 buah tahu sedang (dihancurkan)
2 buah wortel (diserut)
1 buah kentang (diserut)
1 sdm udang pukul
12 buah telur puyuh (rebus)
Bumbu halus:
4 buah bawang putih
1 sdt ketumbar
garam secukupnya
merica secukupnya

Cara membuat:
Campurkan tahu, wotel, kentang, udang dan bumbu halus. Aduk rata, masukkan dalam cetakan (sedikit adonan, telur puyuh, tutup kembali dengan adonan) untuk dikukus kurleb 20 menit. Keluarkan dari dalam steam it, tapis airnya, goreng. Tarrra perkedel tahu nya siap dinikmati sambil utak-atik blog baru di Berbagi Yang Terbaik.