Pasar Tradisional di Tengah Hempasan Pasar Modern

Akankah pasar tradisional ditinggalkan orang seiring waktu yang berjalan? Saya rasa tidak. Ada suasana berbeda yang kita rasakan ketika memasuki pasar tradisional dibandingkan pasar modern. Lantas di tengah kerasnya gelombang modernisasi akankah pasar tradisional mampu bertahan?
Jika kita tanyakan kepada generasi mungkin, mungkin mereka akan memilih berbelanja di pasar swalayan, super market atau mungkin hyper market. Hal ini dikarenakan mereka lebih suka segala hal yang praktis. Jauh dari becek dan juga bau pasar. Selain itu terkadang mereka cendrung mengedepankan gengsi. Ada anggapan jika mereka tidak berbelanja di distro atau butik ya minimal departemen store maka mereka tidak gaul. Apalagi untuk urusan pasar tradisional, bisa-bisa dicap kampungan oleh teman-temannya. Namun lain halnya jika yang berurusan ke pasar ini adalah Ibu-Ibu atau Bapak-Bapak kita. Agaknya mereka masih lebih tertarik untuk merasakan atmosfir pasar tradisional yang sangat berbeda dengan pasar modern.

Nah, kembali ke pertanyaan, akankah pasar tradisional mampu bertahan di tengah hempasan pasar modern? Dengan bangga saya bisa berikan prediksi bahwa pasar tradisional tetap akan mendapatkan tempat dan akan mampu bertahan. Ada beberapa hal yang menguatkan keyakinan saya akan hal ini.

Pertama
Pasar tradisional menjanjikan harga yang jauh lebih murah dari pasar modern. Sudah bukan rahasia umum lagi jika masyarakat kita cenderung mencari harga yang lebih murah. Harga di pasar modern bisa lebih murah dikarenakan pedagang tidak harus menyewa tempat dan juga membayarkan pajak sebesar yang dikeluarkan di pasar modern. Apalagi untuk pasar induk biaya jauh lebih murah lagi karena langsung dari tangan pertama.
Kedua
Pasar tradisional memiliki keterikatan sosial yang kuat antara pedagang dan pembeli. Hal ini dikarenakan dalam proses jual beli di pasar tradisional melibatkan proses tawar-menawar harga. Dari kegiatan yang satu inilah antara pedagang dan juga pembeli terjadi proses saling kenal. Minimal dalam proses jual beli yang dilakukan antara pedagang dan juga pembeli saling mengetahui kampung halaman, walaupun hal ini tidak mutlak dialami oleh setiap penjual dan pembeli.
Ketiga
Menumbuhkan jiwa sosial. Rasa sosial yang ditimbulkan juga semakin besar tatkala hadir rasa iba. Pedagang di pasar tradisional berasal dari kalangan yang beragam. Mereka kebanyakan tidak memakai seragam dan juga berdandan apik seperti di pasar modern. Jiwa sosial kita akan semakin besar jika kita berbelanja ke pasar tradisional. Dengan begini kita dapat melihat berbagai sisi kehidupan yang ada di tengah-tengah kita. Membuka mata dengan berbagai kondisi, tidak hanya melihat hal-hal yang indah saja.

8 thoughts on “Pasar Tradisional di Tengah Hempasan Pasar Modern

  1. Tergantung dari masyarakat..bertahan atau tidaknya pasar traditional ini, bagaimana kebutuhan dan perkembangan masyarakat.
    Jika masing-masing masih membutuhkan hal traditional seperti makanan tradisional misalnya..

    Dan bagaimana juga pemerintah menyikapi pasar tradisional ini, apakah perlu di beri ruang khusus, seperti di jakarta ada ruang khusus untuk cina "glodok" tapi bukan tradisional..
    Pernahkah pemerintah berpikir untuk melestarikan..jangan2 nti malah di akui tetangga lagi..

    Sebaiknya berikanlah hak patten dari sekarang untuk produk di pasar taraditional itu, eh..dpr sih malah ngurusin gedung..might be mau buat pasar tradisional korupsi di sana…

  2. iyahh, pasar tradisional biasanya sering barang yang ngak ada di swalayan. tapi asal pasar tradisional ngak jorok dan pemuh becek. uwww.

    tapi asik. lebih murahhh

  3. pasar tradisional perlu dikembangkan dan di budi dayakan agr menjadi lebih baik,, dan yg nggak kalah pnting adl soal kbersihan…kebersihan tentu haruz diperhatikan dgn baik,, walau pasar tradisional klo pasarnya bersih kan jadi enak tu klo mau belenja…

Leave a Comment