Sunday, July 10, 2011

Pengantin Amplop


Jika mendengar kata-kata pengantin, mungkin yang terbayangkan oleh kita adalah sepasang manusia yang berbahagia, tapi ini tidak berlakun untuk pemikiran Na. Pengantin yang satu ini tidak sepasang, tidak dewasa (eh belum dewasa lah gitu tepatnya), tidak sanggup memberi nafkah lahir apalagi batin kepada lawan jenisnya (soalnya baru mampu memberi makan hamster yang selalu na bilang "mancik kecil"). 

si ante, si adek dan si abang
Ya, pengantinnya pengantin sunat tetapi Na bilangnya "pengantin amplop". Na menulis ini bukan tanpa alasan. Mungkin di luaran sana, banyak juga pengantin yang memegang amplop, tapi yang satu ini beda sodara-sodara. Pengantin kecil ini adalah pengantin sunat yang baru di sunat. Nangis satu malaman, tendang-tendang mantri sunatnya, yang lebih parah si adek melihat abangnya dipegang kakinya dan dieksekusi oleh mantri malah berpikiran kalau abangnya mau dijahatin, mau disakitin gitu sama si mantri. Walau sebenarnya emang disakiti juga sich. Kalau ngak, ngak mungkin dia jejeritan, meronta-ronta ngak jelas gitu. Si adek malah jadi malaikat buat si abang. Ditinjunya, disepaknya pulalah si mantri dan krunya itu. Entah apa lah saat itu yang terbayangkan dibenak si adek kala abangnya meronta-ronta kesakitan itu. Entah akan menjadi trauma untuk dia kala dieksekusi begitu entahlah pula, Na pun tidak tahu. 

Eit, kembali lagi ke pengantin amplop. Ni pengantin doyan banget ngumpulin amplop dari tamu-tamu yang hadir pada saat syukuran khitanannya. Walau dengan celana yang masih diangkat-angkat dia semangat banget nyalamin para tamu, sambil sesekali memasukkan amplop yang diberikan tamu kepadanya ke dalam saku-saku celananya. Entah siapa pula yang merancang bajunya sehingga banyak kantong di baju itu. Hadeeeh sepertinya dia memang ditakdirkan untuk menjadi pengantin amplop dech hari itu. Cucok bo' banget lah itu situasi dan kondisi. Mendukung banget gitu. 

Ketika Na datang setelah sholat Zuhur ke acara, dia sedikit menunjukkan kantong bajunya yang sudah hampir penuh dengan amplop-amplop yang didominasi warna putih itu. Na cuma tersenyum kala dia tunjukkan amplopnya dengan sedikit nada bangga "Ante, banyak nte". Tidak beberapa lama, setelah Na lebih banyak menghabiskan waktu di belakang pelaminan dia untuk beristirahat karena kebetulan badan Na kurang enak #kurang penyedap sepertiny, dia kembali menunjukkan saku baju yang sudah semakin tebal. Oo em ji, banyak banget amplop itu pikir Na, sampai kanan-kirinya penuh. Dan ternyata itu belum cukup sodara-sodara, dia membuka pecinya yang juga sudah penuh dengan amplop. Baggoooos, pintaaaaar. 

Sandiwara itu ternyata tidak berlangsung lama, karena ketika si abang beranjak menuju tempat Na istirahat sambil memperlihatkan jerih payahnya mengumpulkan amplop itu, mamanya lewat. Yaaaach ketahuaaaan dech. Dengan tampang jutek sok dimanis-maniskan si mama akhirnya bilang gini "abaaaang, mama ngak sukak ya kayak gitu". Beda dengan Na yang sebenarnya sangat suka dengan hal yang dilakukan si abang. Karena kan kalau semakin banyak, jatah preman nya juga semakin besar untuk Na#lhaaaah Na ini preman apa ya? Entahlaaah. 

Huahahaha, karena udah ketahuan gitu, jatah preman terpaksa ndak kluar, dengan sedikit cemberut si abang mengeluarkan amplop-amplop yang ada di saku bajunya, tapi TIDAK UNTUK YANG ADA DI PECI. Jiaaah peristiwa itu seminggu setelah si abang khitan. Selamat ya Nak, sekarang abang udah beranjak dewasa. Segala hal yang abang lakukan akan menjadi tanggung jawab abang, baik buruknya. Ngak ada lagi bilang "cop tuhan abang lagi malas sholat", "maaf tuhan abang berdusta". Semuanya akan dihisab bang#abang tahu dihisab kan? bukan kayak abang kehausan lantass menghisab jus jeruk ante atau teh botol ante itu lho". Hisab bang, achhh ante yakin abang ngertilah. Ante percayalah dengan juara umum berturut-turut dari kelas satu samai sekarang abang naik kelas 6 ini, masak gitu ajha ngak ngerti. Bukankah abang suka mencari-cari tahu, sampai sendal ustazah yang tidak ketemu ajha abang search di google kan. Ya tepat itu bang, tanyakan pada google. Segala dosa yang abang lakukan tidak ada dispensasi lagi dari Allah bang. Termasuk bohongin mama dan pergi ke pusat perbelanjaan itu rame-rame, itu dosa. Karena setiap langkah abang, mama harus dikasih tahu, biar abang diridhoi#bukan di beri om Ridho ya bang, karena itu khusus punya ante. Trus mintak-mintak beli hamster lagi sama ante walau dengan harga 80ribu itu juga ngak boleh lho bang#kalau ini murni pembelaan ante. Emang abang sanggup gitu merawat mancik kecil itu kalau banyak di rumah? Ngak kan? itu namanya menyiksa kalau abang tak rawat, berdosa juga abang tuw.