Monday, October 17, 2011

Ketika Penikmat Kuini Sudah berkumpul

Alhamdulillah ya, pohon kuini yang ada di sekitar rumah, kembali menunjukkan eksistensinya. Berbuah, meskipun tak banyak tetapi jadilah. Sudah beberapa bulan ini si pohon kuini seperti tak bosan-bosannya untuk berbuah, habis buahnya, berbunga lagi, begitu seterusnya seolah tidak terpengaruh dengan musim berbuahnya.

Kuini ini dari beberapa bulan yang lalu Na sudah nampak buahnya menonjol, masih kecil banget pada saat itu. Setiap pergi kerja, pulang kerja selalu lah mata ini memandang ke atas, berharap nanti ketika berbuah, dirinya akan benar-benar menikmatinya. Soalnya rada ngak yakin juga bisa menikmati seutuhnya, karena kebetulan tanah di tempat si kuini itu berada sudah disewa temen ayah sepuluh tahun untuk usaha bengkel las. Memang pohonnya ngak masuk dalam pagar yang sudah mereka buat. Minggu ini, waktu nya si kuini menjelma menjadi kuini cantik, harum mewangi sepanjang hari. Mengapa Na bilang demikian? karena, sumvah, wanginya itu waw waw waw waw, penuh seisi rumah. Kemarin satu lagi buahnya jatuh dua dan itu langsung habis disantap ayah dan Ibu. Na benar-benar tidak disisakan, ee ada dink, bijinya disisain. Besoknya lagi, tepatnya semalam abang-abang yang di bengkel datang ke rumah mengantarkan dua buah kuini. Ketika mengantarkan kuini dia bilang ke Ibu, sebenarnya yang jatuh enam buah, tapi udah kami makan empat, jadi tinggal dua lagi. Ow baiklah. Lumayankan diantarin dari pada tidak sama sekali. Kata si ayank, ndak apalah, timbang ndak.

Malamnya, kebetulan rajanya penikmat kuini alias bang Dedi ke rumah. Baru nyampe rumah langsung bilang, "pak, wangi kuini sama Dedi di jalan". Na bilang, carilah bang, mana tau ada. Dengan semangatnya dia langsung cari. Entah kenapa, tiap kali kuininya lagi berbuah dan matang, bang Dedi kebetulan ke rumah pulak. Tetapi setelah dicari-carinya, ngak ketemu, ayah bilang " Ni ada dua Ded, yang jatuh tadi". MM, tanpa ba-bi-bu, langsung disikat sama si abang. Doyan emang dia. Tapi cuma dimakan satu, mungkin sengaja disisain buat Na kali ya, karena dia tahu kemarin Na ngak diberi sama Ayah Ibu. Tadi selepas pulang kerja, di meja udah bertumpuk ajah tu kuini, siap makan siang, waktunya ekspansi kuini. Lepas Magrib? Alahmaak, kuini nya tinggal satu. Begitulah kalau penikmat kuini sudah berkumpul, ngak bisa ngeliat kuini duduk manis di atas meja makan.