Monday, November 21, 2011

Pagi ini Bundo Bercerita

Alhamdulillah dapat bertemu pagi yang indah lagi. Bisa merasakan udara segar yang memasuki rongga dada Na. Melihat mentari yang bersinar cerah. Merasakan hangatnya menyapa tubuh. Pagi ini Na beranikan diri untuk menulis kembali, sekedar menorehkan tinta virtual ini yang sifat nya lebih kepada curahatan hati yang Na rasakan saat ini. Hampir satu bulan kepergian kakak ipar untuk selama-lamanya. Tangis kami belum kering. Namun sepertinya ujian ini semakin berat yang Allah berikan. Ujian untuk kenaikan kelas iman kami mungkin.

Kepergian mendiang untuk selama-lamanya tidak hanya menyisakan duka, tapi menyisakan satu rasa yang membuat kami sekeluarga berfikir, ada apa ini. Seolah pihak keluarga mendiang menyalahkan kami atas kepergian-Nya. Tanpa mereka sadari jodoh, rezeki dan maut sudah ditentukan oleh Allah. Seolah nyawa itu digantang oleh manusia, itu yang Na tangkap. Bukan hanya itu anak-anak juga dicekoki hal-hal yang membuat mereka menyalahkan Ayahnya atas kepergian bundanya untuk selama-lamanya ini. Astagfirullah Al azim, mau nangis Na dengar bocah lugu itu bertanya kepada Ayahnya perihal kepergian Bundanya. Ayahnya yang dalam hal ini Abang berusaha menjawab dengan sesungguhnya dengan sebenar-benarnya apa yang terjadi. Ketika ditanyakan kepada bocah lugu itu siapa yang mengajarinya agar berbicara seperti itu dengan tegas dia utarakan "Iput" yang merupakan tante Nya dari pihak bundanya. Kok diajarkan yang tidak-tidak kepada anak-anak sekecil itu, makasudnya Apa???

Satu bulan ini, Kak Sofie baru 2x di rumah. Padahal setelah kepergian bundanya, anak-anak harusnya mendapatkan perhatian yang lebih intens oleh Ayahnya. Apalagi semua orang sudah menyarankan agar Anak-anak bersama ayahnya. Tapi kenyataan nya sampai hari ini anak-anak ditahan di tempat nenek nya disana. Entah apa maksudnya. Abang masih diam, karena saat ini masih dalam penyembuhan juga pasca kecelakaan yang merenggut nyawa istrinya tercinta itu. Padahal anak-anak bisa mendapatkan perhatian, kasih sayang, sarana, fasilitas yang jauh lebih baik bersama ayahnya. Kemarin ketika baru bawak kakak, keebtulan adek ngak dibolehin bawak sama neneknya dengan alasan dia ngak punya teman, susah mendidik kerasnya karena di lingkungan sana. Ngomong sukak tereak, kata-kata kasar, ngomong kotor. Beberapa hari di ruamh, alhamdulillah ngomong dah lembut, kakak dah berubah jadi anak manis lagi, anak gadis ayah yang rajin, yang cantik, rajin sholat, rajin kasih kado untuk bunda lewat doa-doanya. Sementara di tempat sana, ngak ada satupun yang bisa ngebimbing kakak sofie untuk kirim doa sebagai kado untuk bunda. Padahal sekarang kan yang dibutuhin bunda kakak doa.

Senang bundonya dengar kakak Sofie pas diajak bundonya pergi main game siap bundo nya pulang kerja, kakak malah bilang "Sholat kita dulu ya bundo, doa dulu untuk bunda,, ngaji dulu untuk bunda, kirim kado dulu untuk bunda baru kita main game ya bundo". Kata ayah kakak kayak gitu bundo, sholat dulu, ngaji dulu, doa dulu. Kakak emang pintar dech. Ee belum sempat m,ain bareng kakak, rupanya neneknya yang disana udah jemput katanya adek ngak mau tidur nangis-nangis tanya kakak. Akhirnya Kak Sofie pulang dengan terpaksa dan harus membawa mimpi keinginannya bermain bersama Bundo dan Abi malam itu. Kata neneknya dia bermimpi, almarhumah menjumpai dia di mimpi dan mengatakan anak jangan dipisah-pisah. Katanya biar kak Sofie pulang dulu, nanti kalau mau bawa lagi bawa dua-dua nya#Lah kemarin kan yang melarang bawa dua-dua nya si nenek itu. Oklah, seminggu kakak disana, abang dah rindu sama anak-anaknya dan jemput kesana. Ternyata apa? Si adek justru dibawak neneknya itu keluar kota, semntara si kak sofie ditinggalin di rumah sama Iput. #katanya anak ngak boleh dipisah, ini kok dipisah lagi? Akhirnya kakak dibawa ke rumah. Na udah siapkan baju tidur baru untuk adek dan kakak. Smapai sekarang baju tidur untuk adek belum dibukak dari bungkusnya, masih cantik terbungkus di dalam lemari.

Selama di rumah, kaka seperti biasa, udah jadi anak manis, ngomong kalau kuat-kuat selalu diingatkan, tidur di kasur bersama ayah, ngak kayak disana tidur dilantai dan beramai-ramai. Kakak juga bisa main game, main handphone, main laptop dan mewarnai sama belajar bahasa Inggris. Untuk adek juga udah disiapin mewarnai, cuma adek belum bisa dijemput. Kakak iudah tahu bahasa inggrisnya ayam, udah tahu bahasa inggrisnya angsa, udah tahu bahasa inggrisnya bebek dan bahasa inggrisnya burung. kakak juga udah pinatr mewarnai. Cuma beberapa hari kakak kembali dijemput, walaupun kakak sangat-sangat tidak mau. Meskipun dia masih kecil kakak udah bisa merasakan bagaimana indahnya hidup dengan ketenangan, dengan suara yang lembut, bukan dengan suara keras-keras kayak di hutan. Setiap waktu sholat sholat bersama ayahnya. Udah pandai pakai mukena sendiri, udah pandai wudu sendiri. Tinggal di kamar yang bagus, ada kasur yang cantik, banyak boneka, ada tv dan lain-lain. Merengek dia ketika diajak kesana, tapi ayahnya berusaha membujuk agar dia mau ikut sama neneknya. Cuma yang tidak mengenakkan kenapa pula keluar statemen dari keluarga bunda si kakak, bahwa anak hanya boleh dibawa selasa dan rabu. Maksudnya apa? kata-kata ini yang sedikit menyulut emosi ibu, dan memutuskan untuk tidak usah menjemput anak lagi. Kata ibu kok kita seperti dipermainkan begitu. Padahal kan si kakak berhak mendapatkan kasih sayang ayahnya 7x seminggu, 24 jam sehari. Kenapa hanya boleh selasa dan Rabu.

#Kak Sofie, kalau kakak dah besar nanti, kakak bisa baca tulisan bundo ini. Betapa Ayah sangat sayang kakak, sayang bunda dan sayang adek. Betapa bundo, abi, nenek dan atuk juga sangat sangat sayang. TApi nenek sama atuk Tata, iput, one, bmbg yang tidak membolehkan kakak ada di rumah bundo. Jaga diri baik-baik disana ya nak, tumbuh berkembanglah jadi anak yang cerdas dan beriman. Jaga adek ya nak. Ayah akan terus memperjuangkan kakak dan adek biar bisa sama-sama terus dengan ayah. We love u nak#Cium banyak-banyak dari Bundo