Thursday, February 27, 2014

Potensi Lokal Pekanbaru Luar Biasa, Pekanwak Juga

Pekanwak, setidaknya memulai sesuatu yang tidak mudah. Mungkin sebelumnya beberapa komunitas sudah mulai mensket acara untuk gathering community, namun entah mengapa gaungnya ngak terdengar. Senyap saja. Namun teman-teman Pekanwak mencoba kembali meramunya, sehingga masyarakat bisa membuka mata dan potensi lokal di wilayah ini bisa terangkat.

Benar saja, hal ini akhirnya terbukti. Persiapan juga tidak terlalu lama, sekitar dua bulan mulai dari prepare mentahnya sampai acara ini jadi. Untuk awal bisa dikatakan sukses. Kita yang dari awal masih meraba-raba potensi yang ada di daerah ini, berusaha mengumpulkannya dan meramunya dalam satu rangkaian acara. Tidak mudah tentunya. Namun, apa yang tak bisa dilakukan jika yang menghandle adalah orang-orang yang tidak kenal kata menyerah.

Na sendiri masuk di team ngak dari awal..teman-teman udah aktif duluan diskusi di grup Whatsapp. Secara kita ngak pake, kita jadi ketinggalan info meski tidak terlalu jauh. Sempat pesimis sebenarnya melihat persiapan yang menurut Na lebih singkat dari beberapa event yang pernah na handle. Ya, apalagi kalo bukan masalah sponsorship yang buat hati ini agak menggalau. Namun pesimis Na terpatahkan, ketika suatu kali meet salah seorang dari anggota tim yang tidak perlu disebutkan namanya (yang jelas paling tua aja gitu *eeeh) mengatakan, ada tidaknya sponsor acara ini harus tetap jalan. Bagaimana caranya? ya kita juga harus berpikir keras tetapi secara psikologis kita ngak terbebani dengan sponsorship.

Apalagi kita bukan Event Organizer. Hanya komunitas kecil yang baru ada sekitar dua bulan ini. Ya dua bulan, singkat sekali kan? tetapi kehadiran kita bukan prematur, meski kita masih sedikit buta. Singkat cerita beberapa sponsor berhasil kita gaet walau sich kalo di kasih peringakat belum terlalu membahagiakan, belum membuat kelegaan. Kenapa? karna masih banyak di negeri ini yang masih meragukan acara ini. "Ow apa bisa? apa sanggup? bla...bla...blaa lah. Ya, sebanyak yang meragukan kan masih ada sedikit yang memberikan kepercayaan full.

Acara kita mengambil tempat di Perpustakaan wilayah Soeman HS. Bukan tanpa pertimbangan, meskipun beberapa suara sumbang masih ada di belakang yang mengatakan "mengapa di perpustakaan? kenapa ngak di tempat lain?", ya yang semacam-macam itulah. Ngak lain, salah satu tujuan kita, agar setidaknya hari itu, masyarakat Pekanbaru bisa lebih mengenal pustakanya, bisa berkunjung ke perpustakaan, lihat-lihat, baca-baca dan menikmati sajian yang kita suguhkan, ngak hanya sekedar hiburan tetapi salah satunya ada kuliner khas yang coba kita perkenalkan ke masyarakat. Meski di Ada Apa di Pekanbaru kita belum dapat mengumpulkan seluruh kuliner yang bisa dibilang ngehitz di Pekanbaru, Insya Allah bila tidak ada aral melintang, kita akan prepare untuk Ada Apa di Pekanbaru 2.

Di balik sport jantung kita juga pastinya senyum kebahagiaan terpancar, kenapa? karena teman-teman komunitas begitu antusias dengan acara ini, Alhamdulillah. Kita berhasil mengumpulkan beberapa komunitas hebat di Pekanbaru ini. Teman-teman inilah yang banyak membantu mensukseskan acara kita, makasih kengkawan. Ini sebenarnya point pentingnya, potensi selain budaya, kuliner kita juga mau mengangkat potensi yang dipunya oleh teman-teman komunitas ini.

Ya setiap acara tentunya tidak lepas dari kekurangan, dan kita pun mengalaminya. Bisa jadi karena keterbatasan waktu yang ada :) Insya Allah ke depannya punya waktu persiapan lebih banyak :) Tetapi Na bisa katakan teman-teman Pekanwak sangat luar biasa. Anak-anak muda ini seakan punya energi lebih, tanpa capek dan idenya tidak surut. Lepas plan A, bergerak cepat ke plan B, begitu seterusnya. Walau tidur beberapa jam saja atau nyaris tanpa tidur tidak satupun dari teman-teman panitia yang tumbang, padahal 23 Februari 2014 itu harus melakoni aktifitas yang ngak ringan. Salut dan semoga energi positifnya tersalurkan ke banyak anak muda Pekanbaru yang ingin Pekanbaru bisa dikenal lebih luas dan menghasilkan hal-hal baik lainnya.

Tuesday, February 18, 2014

Pengalaman Itu Guru Berharga

Hai...hai...sepakat donk ya dengan judul yang na lekatkan pada postingan Na kali ini. Pengalaman. Banyak cara untuk mendapatkan pengalaman, bisa dilewati dengan hal yang menyenangkan atau sebaliknya pengalaman justru kita dapatkan setelah sedikit menderita ya, hihihi.

Ok, Back To topic. Ini pengalaman yang mungkin ngak akan bisa terlupakan. Apa ya? tentunya pengalaman menggunakan listrik pra bayar. Ceritanya Awal Januari ini kita resmi menempati kontrakan baru. Kecik saja, hanya ukuran 8x6 aja itupun sudah termasuk dapur ya. Pengalaman pertama tinggal agak berjarak dengan orang tua. (Ceilee, agak melow ni).

Setelah mencari-cari, kita ketemulah di situs jual beli yang terkemuka di Indonesia. Trus Na coba telpon yang punya lapak, ternyata benar rumahnya dikontrakkan. Kebetulan kan ya, yang punya kontrakan sekarang bekerja dan stay di Dumai. Istrinya guru disana, si suaminya pun, keterima bekerja di daerah yang sama. Jadilah rumahnya yang dia tempati dari masih kuliah itu kosong. Sebenarnya ini bukan iklan pertama yang dia taruh di situs jual beli online tersebut. Beberapa pekan sebelum Na menghubungi dia juga sudah diiklanin kan, tetapi sodara-sodara yang berminat rata-rata anak mahasiswa.

Tentu saja si empunya rumah faham betul karakter anak kost dan dia menolak beberapa kali yang ingin menempati rumahnya. Jadilah ketika Na yang telepon sebenarnya dia juga ngak tau kan ya Na sudah bekeluarga atau belum. Langsung kita agak siangan menyamperin lokasi. Lumayan, tempatnya juga tidak begitu jauh, dan tentunya si empunya rumah orang yang suka tanaman, jadi pekarangannya banyak bunga, hehehe.

Akhirnya menunggu 2 hari, karena si empunya rumah lagi di Dumai dan baru bisa ke Pekanbarunya hari Minggu. Nah kita langsung bayar kontrakan dan bersih-bersih. Jadi kondisinya barang-barang yang punya rumah baru akan diangkut setelah beliau sampe hari Minggu itu di Pekanbaru.

Nah, jadinya beberes ya, meskipun ngak terlalu repot mengingat luasnya saiprit ya. Karena lantainya belum dikeramik, jadinya kita agak kesulitan untuk ngepel. Cara yang paling ampuh adalah dengan mencuci lantai. Beli ember, sabun dan sapu lidi (udah kayak nenek sihir mau terbang aja ngebawa sapu dari tokonya ke rumah). Selesai bersi-bersih, waktunya ngeganti karpet pelastik. Kebetulan di wilayah kita tinggal toko-toko lumayan lengkap, dari berbagai toko-toko kelontong, mebel, sampe supermarket juga banyak. Yang ngak ada cuma pom bensin dan bank. Tetapi di pinggir-pinggir jalan banyak yang menjual minyak eceran dengan harga yang tidak terlalu beda dengan yang ada di pom bensin. Kalo di POm bensin kita beli minyak dengan harga 6.500, nah di pinggiran jalan daerah rumah kita harganya cuma 7.000.

Rumah makan super iritpun ada, dengan harga nasi dan lauknya hanya 4.000. Namun sejak kita stay disini belum satupun beli nasi di rumah. Selalu masak walau cuma tau balado dan lalap-lalapan gitu.

Nah, masalahnya dimana ya? disini, karena rumah kontrakan kita ini menggunakan listrik pra bayar. Sebelumnya Na sama sekali ngak pernah gunain listrik pra bayar, gitu juga suami. Tetapi kita sempat sedikit nanya-nanya sama yang empunya rumah, biasanya pemakaiannya berapa? dia cuma bilang 50.000, karena waktunya juga mepet dan kita hanya sebentar ketemu jadinya ngak sempat tanya-tanya banyak. Hanya nanya ketua perumahan, ibu-ibu PKK, iuran sampah, SKM sama nomer meteran.

Beberapa hari kita aman. Namun ngak tahu kenapa rasa takut tiba-tiba listrik padam terus aja ada. Tiba-tiba pulsa habis gitu. Jadinya Na coba isikan dengan menggunakan e bangking bank Mandiri (Nanti akan na post juga bagaimana caranya). Na isikan 50rb, setelah dikurangi adm, dan PJJ, tinggalnya 42.300, lumayan nambah sekitar 72 kwh.

Nah, setelah isi itu tentunya lebih tenang donk. Malamnya, bunyi beep-beep-beep. Kirain punya tetangga yang bunyi (hihihi), nah si bunyi ini ngak berenti-berenti. Tiap 30 menit bunyi terus. Tetapi kita masih tetap tidur dengan tenang, karena pikirnya kan udah diisi di e banking. Ternyata sampe pagi beep-beep terus.

Tanpa berpikir panjang, Na sms yang punya rumah. Isi sms Na lebih kurang gini " kok meterannya bunyi beep-beep terus ya mas, padahal aq semalam udah isi pake e banking". Terus di balas, nomernya udah dimasukin ke meteran mbk? Kaget donk Na, dalam hati mikir nomer apa ya. Na coba tanya dia, trus dia jawab 20 digit nomernya, dimasukin manual mbk ke meteran, trus tekan enter.

Alahmak, untung aja siap isi di e banking Na SS. Na cari de di SS nya yang ada 20 digit, ketemu. Dengan hati-hati na bacakan satu per satu angkanya, sambil si suami yang mencet-mencet di meteran. Sebelum mencet-mencet nomernya, Na suruh liat suami berapa angkanya, trus dia bilang "berubah-berubah". Na bilang "coba lihat yang kanan bawah", trus dia bilang 5. Na setelah angkanya dimasukkan dan terakhir tekan enter, na tanya berapa sekarang yank angkanya? Dia bilang 72,...hmm, ternyata ngisi pulsa listrik ngak sama dengan ngisi pulsa handphone ya...

Trus suami bilang, ya iyalah bun ngak langsung terisi, emangnya dia terhubung dengan internet? hmm, iyalah pulak kata na dalam hati.